Beranda Berita Paguyuban Mojang Jajaka Kota Banjar Melakukan Sosialisasi di STAIMA

Paguyuban Mojang Jajaka Kota Banjar Melakukan Sosialisasi di STAIMA

188
0
paguyuban mojang jajaka sosialisasi di staima
foto bareng paguyuban mojang jajakan kota banjar dengan mahasiswa staima. Foto : Istimewa

Paguyuban Mojang Jajaka Kota Banjar atau yang biasa di kenal dengan Moka, kembali membuka pendaftaran untuk menjadi “The Next Mojang Jajaka 2020”. Melalui sosialisasi yang diadakan pada Senin 10 Februari 2020, di Kampus STAIMA Kota Banjar.

Kegiatan sosialisasi yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) tersebut disambut dengan antusias dari para mahasiswa.

Salah-satu Mojang yang merupakan Alumni STAIMA Kota Banjar, Restiah, ikut serta hadir dalam kegiatan tersebut, selain itu Mojang Eva budi utami dari Dispora dan Az zahra dari STAIS Bina Putera serta Jajaka Fahmi dari Universitas Karawang dan Agung dari IPDN turut serta memeriahkan acara.

Kepala Dinas Bidang Pariwisata Kota Banjar, Bambang Sukardi, menuturkan melalui Mojang Jajaka setiap anggota dapat menggali potensi diri yang dimiliki, sehingga menurutnya potensi-potensi yang ada diperlukan dalam Paguyuban.

“Dengan menjadi Mojang Jajaka, disini kita akan tahu siapa diri kita, kemampuan kita, dan potensi kita. Kami disini mencari calon-calon yang mempunyai kreatifitas, bakat, serta optimisme yang tinggi,” jelasnya. Selasa (11/02/2020).

Selain itu, Bambang mengajak para mahasiswa untuk dapat mendaftarkan diri dan dapat menjadi anggota Moka Kota Banjar selanjutnya.

“dengan senang hati kami mengajak kepada adek-adek Mahasiswa STAIMA Kota Banjar, untuk bergabung menjadi The Next Mojang Jajaka Kota Banjar 2020,” katanya.

Perkenalan MOKA dari Paguyuban Mojang Jajaka Kota Banjar

Dalam acara inti, Para Mojang dan Jajaka dari paguyuban mojang jajaka Kota Banjar satu persatu memperkenalkan diri dan berbagi pengalaman, serta keistimewaan menjadi Mojang Jajaka kepada para mahasiswa.

Eva, salah satu Mojang dari Disporapar, mengaku senang menjadi salah satu mojang di Kota Banjar, menurutnya melalui moka ia bisa mendapatkan banyak hal yang berguna dan ia senangi, termasuk salah satunya menjadi publik figur.

“Tentu saja, kami merasakan sendiri banyak sekali keuntungan yang kami peroleh dari menjadi Mojang Jajaka ini, diantaranya menjadi sorotan publik. Sehingga melahirkan banyak relasi dengan orang-orang hebat, hal tersebut tentu menjadi suatu keistimewaan tersendiri bagi kami,” ujar Eva.

Hal senada juga disampaikan oleh Fahmi, Jajaka dari Universitas Karawang, dengan menjadi  Jajaka ia merasa lebih mudah bersosialisasi dengan berbagai pihak termasuk terhadap Pemerintahan, menurutnya hal tersebut dapat bermanfaat untuk masa depan.

“Diantara keuntungan lain yang sudah pasti kami rasakan ialah kami menjadi mudah berbaur dengan pemerintah, dan di kenal masyarakat. Hal itu tentu berpengaruh dalam memperoleh pekerjaan. Tanpa kami mencari banyak yang menanti,” Jajaka Fahmi dalam perkenalannya.

Sesi Tanya Jawab Sosialisasi Mojang Jajaka Kota Banjar

Berlanjut ke sesi Tanya jawab, salah satu mahasiswa semester 4 bertanya perihal domisili untuk menjadi Mojang Jajaka di Paguyuban Mojang Jajaka Kota Banjar,  “inikan Mojang Jajaka Kota Banjar. Sementara mahasiswa disini tidak semua berasal dari Banjar, apakah bisa yang bukan berdomisili Banjar daftar menjadi Mojang jajaka?” Tanyanya.

Restiah, Salah satu mojang yang merupakan Alumni STAIMA menjawab, semua mahasiswa dapat menjadi Mojang Jajaka, karena terdapat beberapa kategori dalam Mojang Jajaka.

“Tentu bisa bisa saja, jika bukan asli orang Banjar, maka masuknya pada perwakilan dari instansi sekolah atau kampusnya. Mojang-Jajaka ini ada dua kategori. Yaitu kategori remaja dan dewasa. Mahasiswa masuk pada kategori dewasa dengan usia 17-24 tahun. Jadi boleh-boleh saja yaa” Jawabnya.

Kemudian dalam akhir sosialisasi, Resti menjelaskan Mojang Jajaka merupakan suatu sarana yang dapat digunakan mahasiswa untuk bisa mendapatkan prestasi  yang dapat berguna di masa depan.

“Ajang Mojang Jajaka ini harus kita jadikan sebagai batu loncatan buka batu sandaran. Batu loncatan berarti menjadi awal prestasi kita untuk kedepannya.” pungkas Restiah mengakhiri sosialisasi. (Berlia/Red1/Prisma).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here