Beranda Berita Audiensi Uji Ke-STAIMA-an Belum Menghasilkan Keputusan

Audiensi Uji Ke-STAIMA-an Belum Menghasilkan Keputusan

243
0
proses audiensi uji ke-staima-an
audiensi uji ke-STAIMA-an ketika berlangsung di tuang rapat kampus STAIMA Kota Banjar. Foto : Istimewa

Berita Kampus (Prisma),-

Audiensi uji Ke-STAIMA-an yang sebelumnya sempat diajukan oleh mahasiswa semester 6 diselenggarakan di ruang rapat kampus STAIMA Kota Banjar tanggal 22 Februari 2020, pukul 12.30 WIB dan belum bisa menghasilkan keputusan.

Audiensi Uji Ke-STAIMA-an tersebut belum bisa menghasilkan keputusan karena pihak yang berwenang untuk memutuskan yakni KH. Muharir Abdurrahim, M.A. belum bisa menghadiri audiensi.

Sementara pihak yang menghadiri audiensi antara lain Alipudin, S.Pd.I., M.Pd.I selaku ketua panitia Uji Ke-STAIMA-an dan Drs. Mastur Hamami, M.Pd.I selaku pihak kampus yang diminta ketua panitia untuk bisa ikut mendamping audiensi.

Poin yang Diajukan Mahasiswa dalam Audiensi Uji Ke-STAIMA-an

Dalam audiensi Uji Ke-STAIMA-an mahasiswa menanyakan 4 poin permasalahan yaitu soal Landasan Kegiatan Uji Ke-STAIMA-an, Maksud dan tujuan kegiatan, Teknis pelaksanaan dan poin-poin yang di uji dan terakhir Transparansi anggaran kegiatan.

Hal tersebut disampaikan oleh Nurul Huda dalam audiensi, ia mengatakan kegiatan yang akan dilaksanakan seharusnya disosialisasikan dengan rinci kepada mahasiswa.

“Hal ini penting mahasiswa ketahui, jadi sekarang kita pertanyakan, karena kemarin belum ada sosialisasi dalam hal-hal ini,” ujar Huda ketika membuka audiensi. Sabtu (22/02/2020).

Selain itu, Huda merasa janggal terhadap anggaran yang harus dibayar mahasiswa untuk mengikuti Uji Ke-STAIMA-an dalam surat pemberitahuan yang sempat diedarkan.

Ia mengatakna mahasiswa mendapatkan surat pemberitahuan sebanyak dua kali, di mana anggaran yang tercantum dalam surat pemberitahuan pertama naik dalam surat pemberitahuan selanjutnya. “Di surat pertama itu Rp 150.000, tapi yang kedua 200.000, kesannya kegiatan jadi belum terkonsep dengan baik, seperti ada mis komunikasi,” katanya.

Jawaban Ketua Panitia Uji Ke-STAIMA-an

Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Alipudin selaku ketua panitia Uji Ke-STAIMA-an menjelaskan, landasan kegiatan tersebut adalah hasil keputusan dari rapat bersama pimpinan pada tanggal 18 Januari 2020.

Namun Alipudin menambahkan hasil keputusan untuk Uji Ke-STAIMA-an belum dibuat surat keputusan (SK), sehingga landasan hukum secara rincinya belum ada.

“Adanya Uji Ke-STAIMA-an ini hasil musyawarah bersama pimpinan, Cuma memang belum dibuatkan SK-nya,” jelasnya.

Kemudian untuk maksud dan tujuan dari Uji Ke-STAIMA-an adalah untuk menanamkan nilai-nilai Ke-NU-an, di mana nilai-nilai itu, menurutnya penting untuk mahasiswa STAIMA.

“Jadi kan STAIMA itu meskipun bukan kampus NU, tapi kita berada dibawah yayasan yang notabene adalah NU, jadi kita penting mengetahui nilai-nilai itu,” katanya.

Sementara itu, dalam hal anggaran Alipudin mengaku tidak mengetahui perincian anggaran yang dijadikan syarat mengikuti Uji Ke-STAIMA-an karena Ia belum sempat melakukan pembahasan.

“Jadi karena keterbatasan waktu pembahasan kita di sini, kita juga belum sempat membahas dengan bendahara, jadi jujur kalau soal keuangan kita belum tau, hanya tau uang ketika tandatangan saja,” jelasnya.

Mahasiswa Menolak Adanya Uji Ke-STAIMA-an

Terpisah, Bima Zarkasy, selaku kordinator audiensi uji Ke-STAIMA-an mengaku kurang puas dengan jawaban yang disampaikan oleh pihak kampus pada audiensi tersebut, Menurutnya pihak kampus terskesan tidak membuat konsep kegiatan dengan baik.

Belum adanya landasan, konsep dan anggaran yang belum direncanakan dengan baik menurutnya, adalah bukti kegiatan belum layak dilaksanakan.

“Saya apresiasi pihak kampus mau menyerap aspirasi mahasiswa, cuma disayangkan banyak pihak kampus yang tidak hadir, yang hadir juga banyak tidak mengetahui soal kegiatan,” kata bima ketika diwawancara Prisma setelah audiensi.

Kemudian, Bima mengatakan, dalam audiensi mahasiswa menolak adanya Uji Ke-STAIMA-an karena kegiatan dipandang tidak terkonsep dan tidak memiliki landasan.

“Ya akhirnya mahasiswa menolak karena belum jelas, jangan sampai ada anggapan kurang baik di mahasiswa, apalagi soal anggaran, kalau tidak ada landasan bisa masuk pungli,” ujar Bima.

Dalam akhir audiensi, Mastur Hamami menyampaikan pihaknya belum bisa memberikan keputusan, sehingga usulan yang ada akan disampaikan kepada pimpinan.

“Wilayahnya kan bukan wilayah kita, bisa ngobrol namun tidak punya kebijakan, jadi nanti usulan di sini kita akan sampaikan ke beliau,” pungkasnya. (Hendra/Red1/Prisma).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here